rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

2.4.10

Claude Lévi-Strauss


Claude Lévi-Strauss (28 November 1908-30 Oktober 2009)
Antropolog Prancis dan etnolog yang santer disebut bapak "antropologi modern". Dengan latar belakang ilmunya ia berargumen bahwa pikiran liar " memiliki struktur yang sama dengan pikiran "beradab" dan bahwa karakteristik manusia adalah sama di mana-mana. Observasi ini memuncak dalam bukunya yang terkenal Tristes  Tropiques dan berhasil memposisikan dirinya sebagai salah satu tokoh sentral di aliran  strukturalis,  di mana ide-idenya merogoh bidang termasuk humaniora dan filsafat. Strukturalisme telah didefinisikan sebagai "pencarian untuk pola dasar pemikiran dalam segala bentuk aktivitas manusia". Dia dihormati oleh universitas-universitas di seluruh dunia dan memegang kursi Antropologi Sosial di College de France (1959-1982), ia terpilih sebagai anggota Académie Française pada tahun 1973.
Pandangan Eropa terhadap dimensi kehidupan sosial seperti konsepsi Jean Paul Sartre tentang eksistensi manusia mendahului esensi sehingga sebagai subjek, manusia adalah mahluk yang bebas, otonom (subjektifitas). Sementara itu Claude Levi-Staruss (yang juga orang Perancis) mendemonstrasikan konsepnya menentang pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa manusia tidak sebebas apa yang telah dikemukakan Sartre. Bagi Levi-Strauss, Manusia tidak selalu bertindak sadar dan membuat pilihan dam kebebasan total, tetapi ada struktur yang selalu berada dibalik gejala yang diam-diam, tanpa disadari bahkan menentukan pilihan-pilihan partikular individu.[1] Sampai pada perkembangan sejarah teori hingga kini Strukturalisme selalu diidentikkan dengan Levi Strauss yang telah berhasil mengembangkan paradigma yang terbilang sangat fenomenal dalam pendekatan kebudayaan, lebih dari itu semua upayanya dalam mengajarkan kepada kita tentang apa sesungguhnya kebudayaan. Meski begitu, banyak beberapa ahli antropologi yang mengkritiknya dengan menggagap bahwa kerangka teoritiknya terlalu menyederhanakan masalah serta pandangannya tentang sistem kekerabatan yang terlalu meremehkan martabat wanita (bias gender). 
Namun, sebelum melangkah lebih jauh, mungkin kita bertanya apa yang ia maksud dengan “struktur” atau “strukturalisme”? untuk pertanyaan tersebut Heddy Shri Ahimsa-Putra menerjemahkannya dengan cukup baik. Mengenai struktur, Levi Strauss mengatakan bahwa struktur adalah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami atau mejelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya, yang tidak ada kaitannya dengan fenomena itu sendiri, dengan kata lain struktur adalah relations of relations (relasi dari relasi) atau system of relation . Disinilah Levi Strauss berbeda pandangan dengan Radcliffe Brown yang mengatakan bahwa relasi-relasi empiris antar individu.[2]   
Struktural yang telah dikembangkan oleh Levi Staruss juga tidak terlepas dari pengaruh tokoh dan pemikiran lain, yakni Karl Marx, Sigmund Freud dan ilmu geologi. Yang menarik dari pandangan Marx menurutnya dalah bahwa bentuk-bentuk kondisi permukaan dalam masyarakat (politik dan ekonomi)  yang sekilas tampak seadanya, kacau balau seperti adanya pemogokan, kemiskinan, ekspliotasi dan sebagainya sesungguhnya dapat dirunut kedalam mata rantai sebab-akibat di bawah permukaan yakni sekitar pemilikan kapital, sarana produksi dan struktur kelas. Sedang melalui Sigmund Freud menerangkan tentang “ketidaksadaran” dan kemungkinan memetakan struktur jiwa manusia atau bisa Levi-staruss sebutkan dengan “human mind”, dan bahwa dari sedikit tanda-tanda yang muncul dalam suatu masyarakat (mitologi, ritual dan adat) dapat disusun sebuah gambar tentang sistem kebudayaan sebuah masyarakat. Levi-staruss juga senang dengan ilmu geologi yang mempelajari tekstur permukaan tanah. Ia kagum bahwasanya struktur bebatuan yang tersembunyi di bawah tanah dapat dipakai untuk menjelaskan tekstur permukaan bumi. Dari Marx, Freud dan ilmu geologi ini, Levi Staruss belajar bahwa fenomena di permukaan atau biasa disebutnya dengan “struktur luar”, yang tampak seadanya ternyata ditentukan oleh “struktur dalam” yang kurang lebih bersifat teratur dan tetap.
Kecuali ketiga hal tersebut yang paling mempengaruhi tentu saja adalah linguistik struktural. Seperti Ferdinand de Saussure yang merasa perlu mengkaji dan mengurai langue dan bukan Parole, Levi Staruss berpendapat bahwa kita perlu melampaui studi atas gejala yang ada di permukaan (misalnya mitos) dan mengurai logika generatif dalam sistem kultural. Penggunaan ilmu linguistik sebagai model dalam kajiannya dimungkinkan oleh keyakinan  dan pandagannya bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan dalam membangun bahsa pada dasarnya adalah material yang sama tipe/jenisnya dengan material yang membentuk kebudayaan. Apakah material tersebut? Tak lain adalah relasi-relasi logis, oposisi, korelasi dan sebagainya. Baik bahasa maupun kebudayaan merupakan hasil pemikiran manusia sehingga ada hubungan korelasi diantara keduanya. Selain itu pula ada beberapa asumsi yang mendasari penggunaan paradigma linguistik struktural dalam menganalisis kebudayaan, yakni[3] :
1.      Dalam strukturalisme Levi-Straus ini, beberapa aktifitas sosial seperti mitos, ritual-ritual, sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal dan sebagainya  secara formal dapat dilihat sebagai bahasa yakni sebagai tanda dan simbol yang menyampaikan pesan tertentu. Ada keteraturan dan keterulangan dalam fenomena-fenomena tersebut.
2.    Kaum strukturalis percaya bahwa dalam diri manusia secara genetis terdapat kemampuan “structuring”,  menyusun suatu struktur tertentu di hadapan gejala-gejala yang dihadapi.
3.      Sebagaimana makna sebuah kata ditentukan oleh relasi-relasinya dengan kata-kata lain pada suatu titik waktu tertentu (sinkronis), para strukturalis percaya bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena lain pada suatu titik tertentulah yang menentukan makna fenomena tersebut.
4.      relasi-relasi pada struktur dalam dapat disederhanakan menjadi oposisi biner.






[1] Sejarah diskursus yang melingkupi intelektualitas di Perancis seperti yang dituliskan H. Dwi Kristanto, “Strukturalisme Levi Strauss dalam kajian Budaya” dalam Teori Kebudayaan, Kanisius, Jakarta
[2] Uraian pandangan tentang Levi Staruss, Heddy Shri Ahimsa Putra (2006) dalam “Strukturalisme Levi Strauss Mitos dan Karya Sastra”, Kepel Press, Yogyakarta
[3] Lihat H. Dwi Kristanto, “Strukturalisme Levi Strauss dalam kajian Budaya” dalam Teori Kebudayaan, Kanisius Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar